agywp09's blog

Just another weblog

mengapa saya masuk departeman kimia?

November23

bismillah,.

jika ditanyakan kepada saya tentang apa alasan saya memilih kuliah dijurusan kimia, maka ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan.

Jika ada seorang anak kecil yang bertanya pada bapknya tentang sesuatu yang dilihatnya, seperti,.

Kenapa sandal karet itu empuk ya?

Kenapa batu itu keras, berwarna hitam, dan berat?

Kenapa air itu bisa mengalir?

Kenapa besi itu bisa dipakai buat memanaskan masakan?

Kenapa minyak tidak bisa bercampur dengan air?

Kenapa sih kita harus rutin membeli baterai  agar jam dinding kita bisa tetap hidup?

Kenapa bensin itu cepat habis bila dibiarkan tergenang di luar?

Dan berbagai petanyaan lain mungkin bisa sedikit mengkernyitkan dahi kita , kerana kita tahu hal tersebut tapi kita tidak bisa menjelaskannya. Kita terkadang mengabaikan hal tersebut, padahal jika kita tau apa ilmu yang ada dibalik kejadian tersebut maka, kita akan mendapatkan berbagai manfaat yang lebih besar dari ilmu tersebut. Beberapa pertanyaan yang sederhana di atas sebenarnya dapat di pecahkan dengan ilmu kimia. kimia itu melengkapi hidup kita. Karena memang ilmu kimia itu ada disekitar kita , sangat dekat dengan kita oleh karena itu, merapa perlu bagi saya untuk belajar ilmu kimia.

Ketika saya melihat sungai yang penuh dengan sampah dikampung saya, tumpukan sampah dbuangan rumah tangga di beberapa tempat di rumah saya, saya merasa miris. Sampah tersebut jumlahnya senantisa bertambah dan yang lebih parahnya lagi sebagian besar dari sampah tersebut adalh sampah anorganik yang sangat lama teurai. Saya hawatir kalau suatu saat nanti, jika hal tersebut dibiarkan maka akan timbul maslah yang dapat membahayakan lingkungan. Namun permasalahan seperti itu sesungguhnya dapat diselesaikan dengan berbagai cara yang memang dapat dipelajari. Lalu timbulah keinginan saya untuk memecahkan masalah pencemaran tersebut.  Seorang kimiawan tentunya paham dengan permasalahan tersebut.Seorang Kimiwan yang memang mengkususkan diri memahami sifat dan wujud materi tentunya akan lebih mudah mencari solusi dari permaslahan tersebut. Oleh sebab itu saya ingin menjadi seorang kimiawan.

Seorang kimiawan juga mempunyai kesempatan lebih tinggi untuk mendapatkan pekerjaan, karena semua industri yang bergerak dibidang obat-obatan, makanan, sandang, energi maupaun manufakturpasti membuthkan jsa seorang kimiawan. Boleh dibilang, seorang kimiawan itu bisa diterima kerja dimana saja.

carrer in chemistry

ilustrasi berbagi macam jenis pekerjaan bagi ahli kimia

selain itu, lulusan kimia pun biasanya

lalu,  kenapa lagi saya memilih kimia?,

pada saat saya sma sangat menyukai pelajaran kimia, minat saya sangat tinggi terhadapat pelajaran kimia. Nilai yang saya dapatkan dari mata pelajaran ini pun yang paling baik jika dibandingkan pelajaran lain. Oleh karena itu saya memilih terjun ke dunia  kimia karena saya ingin mempelajari sesuatau yang memang saya sukai. say ingin memanfaatkan ‘kekuatan cinta’ . Karena Insya Allah jika kita menyuakai sesuatu yang tentunya di bolehkan menurt syariat, maka halangan sesulit apapun bisa dihadapai dengan tetap tersenyum.

mungkin itu beberapa alasan saya, tentang apa alsan saya memilih belajar kimia. semoga bermanfaat

dan mampu memberikan inspirasi bagi pera pembaca

terima kasih banyak,.

asslamulaikum

agy wirabudi pranta,

Departeman of chemistry, Bogor agricultural university

perkenalan

November23

bismillah,.

assalamulaikum,.

perkenalkan,.

nama saya agy wirabudi, pemuda asal indramayu yang suka olahraga,.

kegiatan saya sekarang adalah sedang belajar kimia di IPB,.

saya aktif di Organisasi mahasiswa dan warga daerah indramayu di bogor (ikada)

dan di lembaga dakwah kampus Al-Hurriyyah ( LDK Al-Hurriyyah) Institut Pertanian Bogor

Pesimis bukan tidak boleh, tetapi dilarang

December2

Ikhwafillah yang dirahmati Allah salah satu penyakit hati yang perlu kita waspadai adalah pesimis. Menurut kamus besar bahasa Indonesia, KBBI pesimis bermakna orang yg bersikap atau berpandangan tidak mempunyai harapan baik (khawatir kalah, rugi, celaka, dsb); orang yg mudah putus (tipis) harapan. Jelas dari makna tersebut kita bisa mengetahui bahwa sika pesimis sangat tidak sesuai dengan ketentuan islam. Jadi pesimis itu bukan hanya tidak pantas dilakaukan, tetapi memang dilarang untuk dilakukan. Hal tersebut sejalan dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam :

“Janganlah salah seorang di antara kalian mati kecuali dia berbaik sangka kepada Allah.”
(HR. Muslim)

Ikhwafillah yang dirahmati Allah, sikap pesimis dapat membuat orang merasakan siksaan yang sebenarnya ia tidak dapatkan. Pesimis dapat menghilangkan potensi dan kesempatan yang kita miliki. Esimis juga bisa berarti kita berputus asa dari rizki dan rahmat Allah SWT. Dan hal tersebut haram dilakukan.
“Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah hanyalah orang-orang kafir.”
(QS. Yusuf: 87)

Dalam ayat lain juga dijelaskan

Setiap muslim wajib berada di antara dua kondisi, yaitu takut kepada azab Allah dan mengharap rahmat-Nya. Janganlah rasa cemas terlalu menguasai diri sehingga menjadi putus asa dari rahmat Allah. Jangan pula rasa harap terlalu mendominasi sehingga ia merasa aman dari makar Allah, sehingga seorang hamba menganggap remeh kemaksiatan serta menjerumuskannya ke dalam dosa. Allah Ta’ala berfirman, “Dia (Ibrahim berkata), “Tidak ada yang berputus asa dari rahmat Rabb-nya kecuali orang-orang sesat.” (QS. Al-Hijr: 56)

Dalam kitab Sunan-nya, At-Tirmidzi meriwayatkan dari Anas radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menemui seorang pemuda yang sedang sakratul maut. Beliau bertanya, “Bagaimana kau dapati dirimu?” Pemuda tersebut menjawab, “Demi Allah wahai Rasulullah, sesungguhnya saya berharap kepada Allah dan sesungguhnya saya pun takut dengan dosa-dosa saya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidaklah keduanya berkumpul dalam hati seorang hamba dalam keadaan seperti ini, melainkan Allah memberikan kepadanya apa yang diharapkannya dan Dia melindunginya dari apa yang ditakutinya.”

Ikhwafillah yang dirahmati Allah, latar belakang kita bersikap pesimis yang aling utama adalah lemahnya iman bahkan tidak punya iman.
“Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. (QS. Az Zumar: 53)
Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir“. (QS. Yusuf:87)
“Janganlah kalian berputus asa dari rizqi Allah selama kepala kalian masih bergerak. Manusia itu dilahirkan oleh ibunya dalam keadaan merah, tidak memiliki suatu apapun, lalu Allah Azzawajalla memberinya rizqi“. (HR Ahmad)
Dalam hadits lain disebutkan:
“Janganlah kalian berputus asa dari kebaikan, selama kepala kalian masih bisa bergerak. Manusia itu dilahirkan oleh ibunya dalam keadaan merah, tidak memiliki suatu apapun, lalu Allah Azzawajalla memberinya rizqi“. (HR Ahmad)
Jika seseorang pesimis terhadap sesuatu, maka dia tidak mungkin lagi berupaya dengan sungguh-sungguh untuk mendapatkannya. Tidak ada pencapaian dan kebaikan dari orang yang pesimis. Dia memiliki segudang alasan, logika, dan faktwa bahwa dia tidak perlu berusaha lagi. Jika tidak berusaha, maka dia tidak akan pernah mendapatkan apa-apa. Untuk seorang da’I, pesimis adalah musuh utama yang harus dihindari. Da’I yang pesimis tidak akan mau berdakwah karena tidak akan ada gunanya menurut dia. Jadi, memang bahaya baik untuk dunia dan akhirat. Malas, tidak mau berusaha, hanya menghujat sana sini, bahkan tidak sedikit yang bunuh diri saat harapan sudah tidak ada. jadi, jangan biarkan sikap pesimis tumbuh dalam hati Anda.
Cara mengatasinya artinya kita membangun optimisme dalam diri kita. Jika penyebabnya adalah lemah atau bahkan tidak ada iman, maka jika ada setitik saja rasa putus asa dalam diri kita, maka kita harus terus-menerus meningkatkan keimanan kita. Tentu dengan iman yang sebenar-benarnya iman.
Bukankah kita beriman jika Allah Mahakuasa? Maka tidak ada yang tidak mungkin jika Allah sudah berkehendak. Sebesar apa pun masalah yang kita hadapi, bagi Allah itu mudah saja. Sebesar apa pun tujuan yang akan kita gapai, bagi Allah itu mudah. Jadi, tidak ada kata putus asa jika Anda percaya kepada Allah akan menolong kita.
Seorang yang beriman saat dia menghadapi kesulitan, dia tidak akan pernah berputus asa, meski dia bingung apa yang harus dilakukan. Maka dia akan berdo’a meminta petunjuk kepada Allah. Karena dia yakin, Allah Maha Mengetahui. Setelah berdo’a dia akan bertawakal kepada Allah. Saat urusan kita sudah diwakilkan kepada Allah, kenapa kita harus takut? Bahkan sekedar ragu pun tidak pantas, sebab Allah akan membantu kita.
Saat keyakinan sudah mantap dalam hati, maka dia akan begitu semangat dalam berikhtiar, optimis, dan menyongsong masa depan yang lebih baik. Masa lalu boleh kelabu. Saat ini mungkin banyak masalah. Tetapi, tidak ada alasan kalau besok akan tetap seperti ini. Selama kepala bisa bergerak, maka kita tidak perlu berputus asa dari kebaikan dan rezeki. Kita juga harus tetap optimis meski beban terasa sangat berat. Seberat-beratnya beban, tentu manusia akan tetap mampu menanggungnya. Sebab, Allah tidak akan membebani manusia di luar kesanggupannya.
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. (QS Al Baqarah: 286)
Saya Ingin Optimis, Tapi Apa Yang Harus Saya Lakukan?
Tentu saja, kadang kita tidak (sebenarnya “belum”) mengetahui apa lagi yang harus dilakukan? Kita mungkin bingung. Namun yakinlah, saat kita tidak mengetahui, bukan berarti tidak ada jalan. Kita hanya belum menemukannya. Kita bukan tidak bisa, tetapi belum tahu caranya. Jadi, saat Anda tidak tahu harus melakukan apa, maka jawabannya adalah belajar dan/atau mencoba.
Artinya, Anda bisa belajar kepada orang lain atau mencoba sendiri kemudian mengambil pelajaran dari percobaan Anda. Jika Anda tidak mau belajar dan berusaha, maka Anda tidak akan pernah menemukan apa-apa. Optimis akan tetap jauh dari diri Anda.
Percayalah, semakin banyak belajar (belajar dengan cara yang baik) maka Anda akan semakin optimis. Jalan-jalan seolah mulai terbuka untuk Anda lalui, baik mengatasi masalah Anda maupun menggapai impian Anda. Dan Jangan Tergesa-gesa
“Sesungguhnya doa salah seorang dari kalian akan dikabulkan selama ia tidak tergesa-gesa, hingga dia berkata; “Aku telah memohon kepada Rabbku namun Dia tidak mengabulkan doaku.” (HR Ahmad)
Sikap tergesa-gesa akan menjadikan kita pesimis. Jika Anda ingin mendapatkan sesuatu dengan tergesa-gesa, akan menyebabkan Anda putus asa, karena harapan memang tidak terlihat. Anda ingin kaya dalam semalam, ingin terampil besok, bahkan ingin dikabulkan do’anya segera. Semuanya butuh proses, ada sunatullah di dunia ini dan kita harus mengikutinya karena itu adalah ketentuan Allah. Jadi, ikuti proses jangan tergesa-gesa.
Ikhwafillah yang dirahmati Allah, jadi mari kita buang rasa pesimis kita, terlebih saat kita menjadi seorang da’i. Insya Allah dengan senantiasa berusaha untuk tidak berfikir petimis kita akan menjadi orang lebih hebat dan bermanfaat lagi.
Wallahu’alam bishawab

Sumber:
Muhammad Basyir Ath-Thahlawi, Ensiklopedia Larangan Dalam Syari’at Islam: Media Tarbiyah
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online.
http://www.motivasi-islami.com/cara-mengatasi-pesimis/

posted under motivasiku | No Comments »

sudah tau tapi ngakk mau, knapa ya…

October19

sudah tau tapi nggak mau, kenapa yah??, itu pertanyaan yg saya tanyakan pada diri saya saat ini, bagi saya itu adalah hal besar yang sangat penting. yah karena sy sangat khawatir sy terjerummus kedalam kemunafikan. mengetahui kebenaran tapi tidak mau mengamalkannya.

sekali lagi sy tau, tp begitu berat untuk menjalankannya, apa mungkin rasa berat itu timbul karena sy sebenernya belum tau, tapi merasa sudah tau, atau memang Allah sengaja tidak mengijinkan pengetuan sy untuk menjadi energy penggerak dari apa yg saya ketahui tersebut,..

spertinya sy kurang berdoany nih,.agar sy tau tahu dan bs mengaplikasikan dari apa yg saya kethui tersebut

bukan sekedar teori tentang lingkungan

March7

indahnya bumi
Bumi ini terlalu indah untuk manusia rusak. Namun pada kenyaataannya terlalu banyak factor untuk membantah argument tersebut. Fakta bahwa ternyata masih banyak penduduk yang tinggal disekitar hutan membabat hutannya demi bertahan hidup terkadang menutupi fakta lain yang lebih kejam. Kita tidak bisa menutup mata atas hancurnya hutan kita akibat tangan-tangan terdidik yang kurang mendapat pendidikan. Jika alasan kasus pertama adalah antara hidup dan mati, maka kasus selanjutnya antara bahagia atau sengsara. Menurut WWF pada tahun 2007 laju pengerusakan hutan di Indonesia setiap tahunnya mencapai 2,8 juta hektar pertahun. Jika kita gunakan hitungan polos, maka bisa dipastikan bahwa pada tahun 2050, hutan di Indonesia akan hanya menjadi cerita indah bagi anak cucu kita.
Ironis memang, dengan memegang tanggung jawab besar sebagai negara yang penduduknya memeluk agama yang paling anti pada perusakan lingkungan, hal tersebut bisa terjadi. Kita tidak pantas menyalahkan siapa-siapa atas kejadian tersebut. Ya, itulah yang saya fikirkan.
Sejak penciptaan alam semesta, Allah swt telah memberlakukan sunatullah bagi ciptaanNya sehingga senantiasa dalam keteraturan dan keseimbangan atau dikenal dengan “hukum alam”. Secara alamiah, alam akan memperbaiki dirinya sendiri bila terjadi ketidakseimbangan/ketidakteraturan akibat adanya kerusakan oleh alam itu sendiri dan manusia.
Tuntunan Islam tentang keseimbangan alam sangatlah jelas sebagaimana firman Allah swt: “Allah menjadikan tujuh langit, kamu sama sekali tidak melihat sesuatu yang tidak seimbang/serasi di dalam ciptaan Allah Yang Maha Rahman. Lihatlah berulang kali dengan teliti, adakah kamu temui sesuatu yang tidak seimbang/serasi” (QS. Al-Mulk: 3).
Petikan ayat di atas menjelaskan bahwa alam semesta yang diciptakan Allah dalam keadaan seimbang dan serasi. Kemudian, firman dalam ayat lain: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah (Adam dari golongan manusia) di muka bumi… Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada malaikat…” (QS. Al-Baqarah: 30 dan 31).

Dengan dasar itulah manusia diberikan Allah kemampuan menundukkan alam dan membangun konsep-konsep ilmiah dari yang bersifat abstrak hingga yang konkret yang menjadi dasar bagi perkembangan Iptek. Tunduknya alam di bawah kewenangan manusia dengan izin Allah, tidaklah serta merta memposisikan manusia sebagai penakluk dan alam sebagai yang ditaklukan. Tetapi kewenangan yang diberikan Sang Khalik adalah kewenangan untuk memanfaatkan maksud dan tujuan penciptaan alam tersebut.

Kelestarian dan keseimbangan alam ini harus menjadi tolok ukur dalam pembangunan dan agama menjadi pedomannya. Konsep keseimbangan yang difirmankan Allah swt, merupakan kunci dari segala keserasian/keteraturan alam. Hukum Fisika, Kimia dan Biologi yang dinyatakan sebagai temuan pakar Iptek, yang telah mengubah peradaban manusia pada dasarnya bermula dari konsep keseimbangan Ilahi.

Allah mencipta dan menjadikan alam ini untuk kemaslahatan manusia, untuk memenuhi kebutuhan manusia yang terus meningkat baik jumlah maupun jenisnya. Ini sudah dapat dipastikan membutuhkan sumber daya alam yang tidak sedikit. Tetapi pemanfatannya haruskan dengan penuh kearifan dan perlu ada usaha memperbaikinya.
Dengan adanya kearifan mengedepankan kelestarian alam, sehingga sumber daya alam tidak terkuras dan tidak merusak, bahkan justru dapat melestarikan potensi dan fungsi alam serta memelihara kebutuhan makhluk Tuhan. Akan tetapi segala kegiatan pembangunan dilakukan menurut hawa nafsu, tentunya akan mendatangkan bencana bagi manusia.
Allah swt berfirman: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar” (QS. Ar-Ruum: 41). “Apa saja musibah yang menimpa kamu, disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar dari kesalahan itu” (QS. Asy-Syuura: 30)
Peringatan Allah dalam petikan ayat di atas cukup lugas dan keras. Allah akan menurunkan azab (bencana) di bumi bila manusia yang telah diberi amanah tidak mampu menjalankan amanah sesuai ketentuanNya, atau malah dengan sombong dan mengikuti hawa nafsu melakukan pengrusakan di muka bumi dengan dalih melakukan pembangunan.
Islam menganjurkan kita memelihara alam dan ekosistemnya. Bila ekosistem terpelihara dan terjaga baik maka akan memenuhi fungsinya dan mencapai dimaksud serta tujuan penciptaannya oleh Allah bagi kesejahteraan manusia dan makhluk lain pada masa sekarang dan mendatang. Tindakan manusia yang cenderung melampui batas dalam pemanfaatan potensi alam dapat mengakibatkan kerusakan dan menuai bencana.
Larangan merusak lingkungan alam terefleksi dalam konvensi keanekaragaman hayati yang ditandatangani oleh 153 negara pada Konferensi Rio de Janeiro, Brasil, menitik beratkan pada larangan merusak habitat hewan, tumbuhan dan lingkungan (alam). Sebenarnya Islam telah lebih awal mengajarkan agar manusia senantiasa berbuat baik pada makhluk lain (tumbuhan, hewan dan alam) seperti yang dikisahkan Alquran tentang Nabi Shalih as, Daud as, Sulaiman as dan Nabi Muhammad saw (santun terhadap tumbuhan, hewan dan alam).
Rasulullah saw telah menyontohkan bagaimana sikap seorang muslim terhadap lingkungan, sebagaimana sabdanya: “Wahai prajurit, kalian tidak diperkenankan membunuh anak-anak dan wanita, musuhmu adalah kaum kafir. Jangan membunuh unta/kuda dan binatang lain, jangan membakar dan merusak kota, menebang pohon dan jangan merusak sumber air minum” (HR. Muslim). Hadis ini ketika peristiwa perang Badar. Sedangkan hadis lainnya: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia” (H.R. Mutafakkun ‘alaihi).
Jadi, jelas bahwa Rasulullah saw telah menanamkan nilai-nilai dan konsep kasih kepada manusia dan makhluk lainnya. Demikian pula paham ecofeminisme yang berkembang belakangan ini, yang menyatakan bahwa wanita dan anak-anak harus dilindungi dari kejahatan/kekerasan perang dan juga paham ini melarang keras melakukan perusakan bumi yang mereka sebut sebagai mother nature.

Konsep Islam tentang pelestarian alam sangat lengkap, jelas dan tegas. Islam lebih awal mengemukakan, namun umat Islam tertinggal dalam menerapkanya. Sudah saatnya kita di negeri syariah ini untuk berada di garis depan dalam mengamalkan ajaran Alquran, Hadis, Ijmak dan Qiyas dalam segala hal, termasuk dalam menjaga kelestarian lingkungan hidup.
tanggung jawab kita

Jadi, tanggung jawab tersebut adalah tanggung jawab manusia. Jika kita berbicara manusia maka sudah pasti kita membicarakan diri kita sendiri. Lebih dari itu, sebagai khalifah di bumi ini, manusia telah Allah perintahkan untuk ingat dan mengingatkan dalam upaya kebaikan dan senantiasa menjaga dirinya dan saudaranya dari keburukan. Kegiatan merusak alam bukanlah suatu kegitan buruk yang sepele, oleh karena itu upaya untuk mencegah terjadinya hal tersebut wajib kita lakukan. Wajib bagi diri kita sendiri dan menyampaikannya kepada orang lain.
Pesan untuk sadar lingkungan bukanlah sebuah basa-basi peramai zaman. Pesan ini adalah pesan penuh arti yang menuntuk penulis dan pembacanya untuk sadar dan mulai mebiasakan diri menjalankan apa yang telah dimintakan terhadap dirinya.
Wallahu a’lamu bish-shawaab.

Salam go green,.

karya

October30

mulai senamh dengan yang namanya fotografi,.

Efek Penghambat dari Ekstrak Kaya Polifenol Daun Rami (Corchorus olitorius) pada Enzim kunci yang Terkait dengan Penyakit Diabetes Tipe 2 (α-amilase dan α-glukosidase) dan hipertensi (Konverter Angiotensin I) Secara in vitro

June14

Meningkatnya jumlah penderita diabetes, ditambah dengan efek samping yang keras dari beberapa obat sintetis (Chakraborty & Rajagopalan, 2002) telah menyebabkan mendorongnya penelitian untuk mencari alternatif obat yang relatif murah dengan efek samping yang minimal. Ekstrak daun Corchorus olitorius berpotensi sebagai anti diabetes dan anti hipertensi. Percobaan dilakukan dengan mengekstrak polifenol bebas dan polifenol terikat pada daun terlebih dulu. Kemudian dilakukan pengujian penghambatan ekstrak terhadap α-amilase, α-glukosidase, dan ACE. Enzim α-amilase berperan dalam proses pemotongan pati menjadi disakarida atau oligosakarida. Disakarida yang terbentuk akan dipecah oleh α-glukosidase menjadi glukosa yang merupakan sakarida yang paling sederhana. Glukosa ini kemudian akan diserap oleh tubuh melalui sirkulasi darah. Proses penghambatan ini dapat mengurangi hiperglikemia postprandial (Oboh G, et al 2012). Penghambatan enzim dapat memperlambat pemecahan pati dalam saluran pencernaan. Penghambatan enzim yang terlibat dalam hidrolisis karbohidrat seperti α-amilase dan α-glukosidase dapat dijelaskan sebagai pendekatan dari terapi untuk mengendalikan hiperglikemia postprandial.
ACE I akan memotong Angiotensin I menjadi Angiotensin II yang merupakan suatu vasokonstriktor kuat yang telah diidentifikasi sebagai faktor utama dalam hipertensi. Flavonoid merupakan senyawa yang berpotensi kuat dalam proses penghambatan α-amilase, α-glukosidase, dan ACE dibandingkan dengan senyawa fenolik lainnya. Ekstrak polifenol bebas memberikan hasil yang lebih baik terhadap penghambatan enzim dibandingkan dengan ekstrak polifenol terikat. Hal ini karena dalam ekstrak polifenol bebas terdapat senyawa isorhamnetin yang merupakan senyawa flavonoid yang dapat meningkatkan kemampuan ekstrak polifenol dalam menghambat aktivitas ACE

disusun oleh agy wirabudi pranata, ira puspita adriana, resty dwi andini

Upaya Penanganan Sampah Sebagai Bentuk Kepedulian Kepada Lingkungan, Studi Kasus di Asrama TPB IPB

May27

Oleh Agy Wirabudi Pranata, Departemen Kimia IPB   

Permasalahan tentang perusakan lingkungan akibat sampah, bagi negara yang sedang berkembang seperti indonesia ini menjadi permasalahan yang sepertinya tak terlihat ujung pemecahannya. Sampah yang dihasilkan oleh kegiatan manusia pada sekarang ini jumlahnya makin meningkat dari tahun ketahun. Dengan bertambahnya laju peningkatan populasi penduduk dunia, berubahnya gaya hidup manusia menjadi lebih kunsumerisme, maka laju perusakan lingkungan menjadi semakin meningkat secara signifikan. Menurut data KLH, pada tahun 1995 rata-rata orang di perkotaan di Indonesia menghasilkan sampah 0,8 kg per hari dan terus meningkat hingga 1 kg per orang per hari pada tahun 2000. Produksi dan konsumsi air kemasan dari tahun ke tahun terus meningkat. Tahun 2011 produk konsumsi air kemasan bisa mencapai 17 milyar liter. Itu akan membutuhkan botol plastik sampai 500.000 ton per tahun. Tahun 2012 ini asosiasi produsen air kemasan itu produksinya mereka akan mencapai 19 milyar liter. Berdasarkan data dari BPS tahun 2004, dari total timbunan sampah yang terangkut dan di buang di Tempat Pembuangan akhir (TPA) berjumlah sekitar 41,28 %, di bakar 35,59 %, dikubur 7,97 %, di buang sembarangan 14,01 % dan yang terolah hanya 1,15 %. Sampah yang dibiarkan begitu saja dapat menyumbang kontribusi dalam mempercepat perusakan lingkungan dan mengakibatkan pemanasan global.

Pemecahan mengenai masalah sampah ini sebenarnya sudah banyak bermunculan. Dari segi penanggulangannya seperti semakin berkembangnya teknologi daur ulang sampah, teknologi komposing, dan juga dari segi pencegahannya seperti semakin berkembangnnya ilmu pengetahuan dan teknologi untuk menciptakan material yang bersifat biodegradable yang ramah lingkungan. Selain itu, mulai dari pertengahan abad ke 20, negara-negara di dunia sudah mulai bersepakat untuk membuat suatu aturan yang bisa di terapkan di setiap negara terkait dengan penanggulangan masalah lingkungan. Namun faktanya upaya-upaya tersebut ternyata masih belum optimal. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan terus meningkatnya jumlah sampah yang ada.

Sebuah contoh yang sederhana dapat kita lihat di kampus IPB. Sampai saat ini, pengelolaan sampah di kampus IPB ternayata belum dilakukan secara serius dan optimal. Memang terlihat miris, dikampus yang di dalamnya berisi orang-orang yang memiliki kapasitas akademik dan pemahaman yang tinggi tentang pentingnya menjaga lingkungan, tetapi ternyata kondisi pengelolaan sampahnya sangat memprihatinkan. Menurut petugas penjaga tempat pembuangan akhir sampah kampus, sampah yang dihasilkan oleh civitas akademika IPB setiap harinya bisa mancapai 4 truck yang sebagian besar berasal dari Asrama Tingkat Persiapan Bersama IPB. Setelah sampai ditempat tersebut, setengah dari jumlah sampah tersebut di bakar dan setengah laginya di kirim ke TPA Galuga. Walaupun ,mungkin di beberapa tempat di dalam kampus ada proses  pemisahan antara sampah organik dan anorganik, namun pada penanganan lebih lanjutnya, sampah-sampah tersebut di campur begitu saja dan tidak ada perlakukan lebih lanjut selain di bakar dan di kirimkan lagi ke TPA. Justru malah jika jumlah sampah sudah sangat menggunung, sampah-sampah tersebut sebagian di buang ke jurang di deket tempat pembuangan sampah tersebut.

Seperti yang sudah kita ketahui, luar biasa berbahayanya dampak yang di akibatkan dari kejadian tersebut. Bisa dibayangkan betapa banyaknya zat beracun seperti gas metan dan gas klorin yang dihasilkan dari proses tersebut. Belum lagi betapa banyaknya zat yang mencemari sungai dan tanah akibat pembuangan sampah yang asal-asalan. Penulis yakin sebenarnya kita sudah tau apa yang harus kita lakukan untuk mengatasi hal tersebut. Permasalahan sampah di asrama misalnya, langkah pemecahannya mungkin sederhana tetapi apakah kita mau dan mampu melakukannya?. Sebut sajalah dengan mengurangi pemakaian barang-barang yang sekali pakai, lalu mengurangi pemakaian pembungkus makanan yang berbahan plastik sekali pakai dan menggantinya dengan memakai  pembungkus yang bisa berumur lebih panjang. Penulis yakin, dengan  mempraktekan hal tersebut, jumlah produksi sampah di asrama bisa ditekan. Contoh tindakan lain yang bisa di lakukan di asrama adalah mulai belajar untuk memanfaatkan kertas bekas baik untuk di gunakan menjadi catatan kembali maupun untuk di daur ulang. Kemudian upaya untuk mengkampanyekan pentingnya menjaga lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan juga perlu di tingkatkan. Upaya tersebut bisa dilkaukan dengan cara menempel tulisan-tulisan yang berisikan himbauan untuk tidak membuang sampah sembarangan dll. Selain dengan upaya persuasif, upaya pemaksaan juga sepertinya cocok dilakukan, karena seyogyanya  pendidikan kedisiplinan tentunya cocok di terapkan di asrama. Hal tersebut di dapat direalisasikan dengan dibuatnya aturan-aturan yang bersifat mengikat bagi seluruh penghuni asrama. Pembuatan tempat pengolahan sampah terpadu juga tidak mustahil dilakukan di asrama.

Upaya untuk penanganan masalah lingkungan di Asrama TPB IPB merupakan langkah yang sangat nyata untuk membuktikan bahwa lingkungan kampus dapat menjadi contoh yang baik dalam upaya penyelamatan bumi. Langkah besar untuk menyelamatkan bumi kita dimulai dari langkah kecil kita untuk memulai melaksanakan hal-hal yang disebutkan diatas. Dimulai dari saat ini dan dari diri kita sendiri. Bukan mustahil, saat kita mampu melaksanakannya, maka harapan-harapan kita untuk masa depan bumi dan manusia yang lebih baik akan terwujud. Wallhu’alam bishawwab

Mewujudkan Upaya Green Campus IPB

May24

Oleh: Agy Wirabudi Pranata, Departemen Kimia IPB

Permasalahan lingkungan menjadi salah satu hal yang paling utama dan paling diperhatikan dalam beberapa tahun belakangan ini. Setiap elemen masyarakat mulai menyadari bahwa Bumi memang tidak sedang dalam keadaan baik, harus melakukan tindakan untuk menyelamatkan Bumi kita bersama. Kata “hijau” atau “green” telah menjadi sebuah trend baru dalam setiap keseharian manusia sekarang ini. Aspek lingkungan pun menjadi salah satu acuan dasar dalam setiap proses pembangunan.

Perguruan tinggi merupakan tempat dimana para terpelajar dididik dan didewasakan agar dapat memberi solusi dalam suatu permasalahan bangsa. Tingkat kemajuan suatu Negara dapat dilihat dari kualitas perguruan tingginya. Oleh karena itu, sudah seharusnya sebuah perguruan tinggi menjadi ujung tombak terdepan dalam menyelesaikan suatu permasalahan bangsa, termasuk permasalahan lingkungan. Indonesia merupakan salah satu Negara yang paling berkontribusi terhadap permasalahan global. Apalagi setelah Indonesia sempat dinobatkan sebagai Negara yang paling cepat dalam penggundulan hutannya. Hutan kita yang dahulu sangat dibanggakan sebagai paru-paru dunia, kini hanya tinggal cerita belaka. Haruskah kita diam dan tidak peduli akan semua ini?

Isu Pemanasan Global dan Perubahan Iklim (Climate Change) bukan lagi sekedar isapan jempol belaka, tapi sudah menunjukan bentuk & wujud yang sebenarnya kehadapan umat manusia di bumi dengan semakin tidak nyamannya bumi sebagai tempat tinggal ataupun hunian makhluk hidup. Berbagai fenomena alam yang cenderung mengalami penyimpangan (anomali) akhir-akhir ini seperti iklim yang kacau, panas yang Ekstrim berkepanjangan, intensitas curah hujan yang kelewat tinggi diluar normal, banjir, angin ribut, puting beliung, banyak dikaitkan dengan isu pemanasan global tersebut. Hal tersebut tidaklah keliru dan berlebihan bila melihat fakta dan hasil-hasil penelitian para ahli yang menunjukkan bahwa ada kecenderungan jumlah kadar gas rumah kaca seperti CO2 di atmosfer telah kelewat batas, yang terus menerus dimuntahkan dari bumi, dimana semakin hari jumlahnya dan konsentrasinya terus membumbung tinggi, serta ternyata sangat berkorelasi positif dengan semakin tingginya aktivitas manusia di Bumiyang dihasilkan dari berbagai kegiatan antara lain rumah tangga (termasuk institusi/kantor/rumah sakit/sekolah/kampus), industrI, transportasi, dan lain-lain.

Berbagai bentuk antisipasi ataupun menyiasati berupa mitigasi serta adaptasi sebagai wujud kepedulian telah melahirkan berbagai program maupun gerakan-gerakan lingkungan dalam upaya memerangi pemanasan global tersebut, baik berupa program-program lingkungan yang diprakarsai oleh pemerintah (baca: Kementerian Lingkungan Hidup), gerakan-gerakan lingkungan oleh LSM Lingkungan, Pendidikan Lingkungan di sekolah-sekolah, Pesantren dan Kampus, kampanye, penyuluhan, sosialisasi, dll. Salah satu program lingkungan yang akhir-akhir ini terutama ditujukan untuk lingkungan Perguruan Tinggi adalah yang disebut dengan program eco-campus (Green Campus). Pada dasarnya berbagai program lingkungan yang dibuat pemerintah tidak terkecuali eco-campus adalah bersifat sukarela (volunteer) dan merupakan program stimulus, dimana tidak ada unsur paksaan maupun tekanan dari pemerintah. Dengan demikian yang diharapakan adalah muncul dan terbangunnnya kesadaran dan kepedulian warga kampus sendiri dalam memelihara kelestarian lingkungan. Demikian juga kampus sebagai tempat berkumpulnya para intelektual dan tempat dilahirkannya para intelektual muda generasi penerus bangsa diharapkan dapat menjadi model atau contoh bagi institusi lain dalam pengelolaan lingkungan yang baik.

Sebagai kampus yang mayoritas mahasiswanya bergama muslim, IPB seharusnya bisa menjadi pelopor dalam upaya menciptakan kampus yang berwawasan linglkungan. Sebagai agama yang rahmatan lil alamin, Islam meletakkan pemanfaatan dan pengelolaan lingkungan sebagai bagian integral dari proses ibadah yang dijalankan oleh penganutnya. Kewajiban setiap muslim dalam menjaga lingkungan yang baik telah termaktub di dalam Alqur’an dan juga diberikan contohnya dalam beberapa hadis nabi, termasuk ganjaran atau hukuman bagi yang tidak mengindahkan kewajiban tersebut. Usaha yang terus menerus masih harus dilakukan guna menyadarkan mereka sehingga pengelolaan lingkungan yang baik dan terpadu menjadi bagian dari hidup mereka. Selain itu, dengan menyadari hukuman berat yang Allah SWT akan berikan pada mereka apabila melakukan kerusakan, akan menjauhkan mereka dari perbuatan yang merusak tersebut.

Proses kerusakan lingkungan di darat dan lautan telah disitir dalam Alqur’an surat 30 (Ar-rum) ayat 41:”Telah terjadi (tampak) kerusakan di darat dan di laut karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah akan merasakan kepada mereka sebagian (akibat tindakan mereka) agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. Selanjutnya masih banyak lagi ayat-ayat Alqur’an (misalnya: surat 2 ayat 60 dan 205; surat 5 ayat 64; surat 7 ayat 85; dan beberapa surat lainnya) yang juga menegaskan tentang peranan manusia dalam kerusakan lingkungan, melarang manusia untuk merusak lingkungan, dan sekaligus mengajak manusia memelihara lingkungan. Dari ayat-ayat tersebut ada dua hal pokok yang menjadi dasar pandangan Islam dalam issu pencemaran lingkungan. Pertama, Islam menyadari bahwa telah dan akan terjadi kerusakan lingkungan baik di daratan dan lautan yang berakibat pada turunnya kualitas lingkungan tersebut dalam mendukung hajat hidup manusia. Kedua, Islam memandang manusia sebagai penyebab utama kerusakan dan sekaligus pencegah terjadinya kerusakan tersebut. Untuk itu, ajaran Islam secara tegas mengajak manusia memakmurkan bumi dan sekaligus secara tegas melarang manusia membuat kerusakan di bumi. Namun sayangnya, ayat-ayat tersebut kurang mendapat perhatian baik dari kalangan ulama maupun masyarakat umum. Kemungkinan besar masyarakat belum cukup menyadari dampak akibat kerusakan lingkungan, bahkan ketika mereka jelas-jelas mengalami bencana tersebut.

Merosotnya citra Islam disegala bidang termasuk bidang lingkungan banyak diakibatkan oleh tidak dilaksanakannya kewajiban agama tersebut oleh sebagian besar pemeluknya. Sebagian besar pemeluk Islam masih menganggap bahwa kewajiban mereka hanyalah yang bersifat ritual ibadah seperti shalat, puasa, zakat, dan pergi haji tanpa melihat fungsi dan manfaat lebih jauh dari ritual tersebut. Misalnya, shalat selain merupakan sarana berbakti kepada Allah SWT juga dimaksudkan agar mencegah pelaku shalat tersebut dari perbuatan keji dan mungkar termasuk membuat kerusakan dan pencemaran lingkungan. Ibadah puasa diharapkan menjadi sarana bagi pelaku puasa tersebut untuk bersifat sabar, sederhana, dan tidak berfoya-foya. Dengan sifat tersebut, diharapkan mereka mampu mengekang diri mereka dari eksploitasi lingkungan yang berlebihan. Zakat dan sedekah diharapkan mampu membuat sipelaku menjadi orang yang pemurah dan sekaligus memberikan perhatian terhadap lingkungan sekitar. Zakat dan sedekah seharusnya tidak dilakukan hanya untuk terlepas dari kewajiban untuk memenuhinya tetapi seharusnya disadari bahwa zakat dan sedekah tersebut harus memenuhi fungsinya sebagai salah satu sarana kesejahteraan umat manusia. Untuk itu, zakat tersebut harus dikelola dan dimonitor dengan baik demi kesejahteraan bersama. Selanjutnya pergi haji dapat juga dijadikan sarana untuk mempelajari lingkungan yang mungkin sangat berbeda dengan lingkungan asal pelaku haji tersebut. Selain itu sejarah mengenai kisah nabi Ibrahim juga dapat dijadikan pelajaran bagaimana pentingnya sumber daya alam (misalnya air) bagi manusia. Pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya alam tersebut merupakan kewajiban bagi setiap individu muslim. Dengan menumbuh semangatkan kesadaran tersebut, insya Allah cita-cita sebagai agama yang rahmatan lil alamin dapat terwujud.

Green Campus

Program eco-campus pada dasarnya dilatarbelakangi oleh antara lain bahwa, lingkungan kampus diharapkan harus merupakan tempat yang Nyaman, Bersih, Teduh (Hijau), Indah dan Sehat dalam menimba ilmu pengetahuan; Kemudian lingkungan kampus sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari ekosistem perkotaan tidak sedikit peranan dan sumbangannya bagi meningkatkan maupun dalam menurunkan pemanasan global. Disamping itu, yang tidak kalah pentingnya adalah bagaimana masyarakat kampus dapat mengimplementasikan IPTEK Bidang Lingkungan Hidup secara Nyata. Oleh karena itu program Eco-Campus / Green Campus adalah Bertujuan untuk meningkatkan kesadaran serta kepedulian masyarakat kampus sebagai kumpulan masyarakat ilmiah untuk turut serta berpartisipasi dan bertanggung jawab dalam mengurangi Pemanasan Global.

Pengertian istilah Eco-Campus/ Green Campus dalam konteks pelestarian lingkungan bukan hanya suatu lingkungan kampus yang dipenuhi dengan Pepohonan yang Hijau ataupun kampus yang dipenuhi oleh Cat Hijau, ataupun barangkali karena kebetulan Jaket Almamater kampus yang bersangkutan berwarna hijau, namun lebih jauh dari itu makna yang terkandung dalam eco-campus adalah sejauh mana warga kampus dapat memanfaatkan sumberdaya yang ada di lingkungan kampus secara efektif dan efisien, misalnya dalam pemanfaatan Kertas, alat tulis menulis, penggunaan Listrik, Air, Lahan, Pengelolaan Sampah, dll. Dimana semua kegiatan itu dapat dibuat neraca dan dapat diukur secara Kuantitatif baik dalam jangka waktu bulanan maupun tahunan.

Indikator Green Campus

Oleh sebab itu, dalam program eco-campus ada beberapa indikator ataupun parameter yang dapat dijadikan sebagai ukuran apakah kampus tersebut telah benar-benar telah mencapai sebutan eco-campus ataupun Green Campus. Adapun Ukuran keberhasilan ditentukan oleh beberapa faktor antara lain: :

  1. Efisiensi penggunaan kertas sebagai kebutuhan pokok pengajaran
  2. Efisiensi pengelolaan sampah dalam penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran
  3. Efisiensi penggunaan lahan sebagai ruang terbuka hijau dan estetika (landscape)
  4. Efisiensi penggunaan listrik
  5. Efisiensi penggunaan Air
    Efisiensi pemakaian sumber daya alam
    Upaya kontribusi pengurangan pemanasan Global

 

Pengelolaan Sampah

Kampus sebagai suatu Lembaga/ Institusi yang fungsinya utamanya menyelenggarakan proses pendidikan dan pengajaran, penelitian serta pengabdian masyarakat, tentunya dalam semua kegiatannya tidak terlepas dari penggunaan kertas yang cukup banyak. Harus diakui bahwa kondisi yang ada selama ini menunjukkan bahwa hampir semua lembaga/institusi baik pemerintah maupun swasta tidak terkecuali lembaga pendidikan sangat boros dalam pemakaian kertas. Hal ini bukan saja akan berdampak pada meningkatnya volume limbah yang dihasilkan di perkotaan secara langsung, dimana pada gilirannya akan memperpendek usia TPA, namun juga secara tidak langsung hal ini akan memboroskan penggunaan sumberdaya alam hutan (kayu).

Pemusnahan limbah kertas dengan cara membakar seperti yang lazim dilakukan bukanlah penyelesaian masalah sampah, bahkan sebaliknya akan menimbulkan masalah baru berupa pencemaran udara, dengan dilepaskannya gas karbondioksida yang dapat memicu meningkatnya pemanasan global. Oleh sebab itu, di dalam lingkungan kampus diharapkan sudah tersedia tempat-tempat sampah sekaligus upaya-upaya pemilahan sampah antara organik & an-organik. Penerapan konsep 4 R (Reduce, Recycle, Reuse dan Repair atau Recovery) merupakan pilihan yang tepat dan bijak dalam mengatasi masalah sampah termasuk di lingkungan kampus.

Pemanfaatan Lahan

Efisiensi penggunaan lahan di lingkungan kampus juga perlu mendapat perhatian. Idealnya harus ada perimbangan antara luas bangunan dengan ruang terbuka hijau. Minimal 30% lahan kampus sebaiknya dimanfaatkan sebagai Ruang Terbuka Hijau (RTH). Selama ini ada kecenderungan bahwa banyak lahan-lahan di lingkungan kampus yang belum dimanfaatkan secara optimal, bahkan cenderung ditelantarkan atau dibiarkan sebagai Lahan Tidur (Sleeping Land) atau ruang hilang (Lost Space). Padahal bila lahan yang ada dimanfaatkan bagi berbagai macam tanaman, termasuk tanaman produktif misalnya buah-buahan akan memberikan manfaat ganda. Disatu sisi tanaman dapat mendaurulang gas-gas CO2 di udara, sekaligus menghasilkan Udara Segar (Oksigen) yang memberikan kenyamanan bagi lingkungan sekitarnya, yang berarti juga akan mengurangi Pemanasan Global, disisi lain tanaman buah-buahan dapat memberikan nilai tambah ekonomi bagi warga kampus/masyarakat. Disamping itu dengan adanya vegetasi/tanaman dapat memberikan nilai estetika/keindahan tersendiri bagi lingkungan Kampus.

Penggunaan Energi

Penggunaan energi listrik juga merupakan salah satu indikator yang digunakan dalam menilai apakah suatu kampus telah berwawasan lingkungan atau belum. Hal ini sangat erat kaitannya dengan isu pemanasan global itu sendiri. Selama ini sebagian besar sumber energi utama manusia di bumi lebih terfokus pada penggunaan Bahan Bakar Fosil (BBF) seperti minyak bumi, gas, dan batubara yang jelas-jelas telah banyak menghasilkan gas-gas rumah kaca seperti CO2, dan telah memberikan kontribusi terbesar bagi Pemanasan Global. Disamping itu, mengingat BBF ini merupakan energi tersimpan, sehingga dapat diperkirakan stock yang ada di perut bumi, dimana hanya dapat dimanfaatkan untuk beberapa tahun ke depan. Untuk itu, perlu upaya-upaya efisiensi dalam penggunaannya sambil terus menerus mengembangkan energi alternatif lain yang ramah lingkungan seperti Energi Matahari (Solar Cell) yang terus menerus mengalir dan tidak akan habis selama matahari masih bersinar, Energi Air, Energi Angin, Bio-fuel, Panas Bumi (Geothermal), dll.

Pemanfaatan Air

Demikian juga halnya dengan pemanfaatan sumberdaya alam lainnya seperti air. Air merupakan kebutuhan Vital manusia dan makhluk hidup lainnnya. Pemanfaatan air oleh manusia ada kecenderungan terus menerus mengalami peningkatan baik secara kuantitatif maupun kualitatif, baik diperkotaan maupun pedesaan serta menunjukkan pemakaian yang cenderung boros. Walaupun secara kuantitatif jumlah air di bumi relatif tidak berkurang, namun secara kualitas banyak sumber-sumber air yang telah mengalami pencemaran, baik air permukaan maupun air tanah. Pemanfaatan air permukaan (mis: air sungai) sebagai sumber air bersih dewasa ini bukan saja membutuhkan pengolahan dengan teknologi yang ekstra, namun juga membutuhkan biaya yang cukup tinggi. Tidak mengherankan harga jual air oleh PDAM juga cenderung mengalami kenaikan yang terus menerus.

Eksploitasi air tanah, terlebih sumur bor sebagai sumber air bersih dan air minum bukan saja berdampak pada semakin terkurasnya air tanah, namun juga dapat mengakibatkan Menurunnya Permukaan Tanah (Land Subsidence) seperti yang dialami oleh banyak kota-kota besar saat ini seperti Jakarta, dimana selanjutnya akan berdampak pada terjadinya intrusi air laut. Dengan adanya gejala penurunan permukaan tanah yang terus menerus akan memudahkan air laut masuk ke daratan yang lebih dikenal dengan Banjir Laut (Rob), terlebih lebih dewasa ini ada kecenderungan yang menunjukkan bahwa volume air laut terus menerus bertambah karena mencairnya es di kutub sebagai dampak dari Pemanasan Global yang terjadi, yang akan memudahkan tenggelamnya daratan.

Oleh sebab itu, efisiensi pemanfaatan air adalah sangat penting dilakukan oleh semua warga masyarakat tidak terkecuali di lingkungan kampus. Penghematan air misalnya dapat dilakukan dengan jalan memanfaatkan kembali air yang telah digunakan dengan menggunakan teknologi re-sirkulasi air seperti yang telah bayak digunakan oleh institusi lain. Jadi sisa air yang telah digunakan untuk berbagai keperluan seperti dari kamar mandi, dapur, dll. ditampung kembali dalam kolam penjernihan terpadu, yang kemudian dimanfaatkan kembali. Di samping itu, lahan yang ada juga dapat dimanfaatkan sebagai sumur resapan ataupun biopori untuk menampung air hujan yang jatuh agar tidak sia-sia mengalir sebagai air permukaan dan terbuang ke laut. Air hujan selanjutnya dapat mengisi air tanah, kemudian tersimpan sebagai air persediaan pada saat musim kemarau tiba.

Sebagai tempat pusat riset dan teknologi, kampus merupakan tempat yang sangat potensial untuk tempat terjadinya kerusakan lingkungan akibat pencemaran limbah labolatorium baik labolatorium kering maupun labolatorium basah. Pencemaran limbah dari labolatorium basah seperti limbah dari labolatorium kimia dan labolatorium biologi dapat berpengaruh besar pada kualitas lingkungan di daerah sekitar kampus. Oleh sebab itu pengololaan limbah dikawasan tersebut perlu di atur dengan baik agar tidak mencemari lingkungan.

Berbagai parameter/indikator sebagaimana diuraikan diatas pada dasarnya adalah disusun berdasarkan pertimbangan-pertimbangan ilmiah terutama dikaitkan dengan fenomena-fenomena alam serta fakta-fakta yang terjadi bahwasanya saat ini lingkungan hidup manusia sedang mengalami degradasi dan kerusakan-kerusakan yang luar biasa, demikian juga terjadinya laju penyusutan sumberdaya alam dengan intensitas yang cukup tinggi yang bermuara pada timbulnya Pemanasan Global. Oleh karena itu, program ini juga bertujuan untuk melestarikan lingkungan serta upaya-upaya efisiensi pemanfaatan sumberdaya alam dan lingkungan, dimana pada gilirannya diharapkan dapat meminimalisir ataupun mengurangi pemanasan global. Sudah seyogyanya kita sebagai warga kampus yang hidup dalam lingkungan masyarakat ilmiah terdidik selalu tanggap dan bertanggungjawab dalam menyikapi berbagai masalah disekeliling kita dan menjadi contoh/model, tidak terkecuali masalah lingkungan seperti Pemanasan Global / Global Warming yang sedang menghantui kita yang dapat mengancam kelanjutan Bumi dan Kehidupan kita. Mengapa kita tidak Bertindak untuk memulainya?

Beberapa hal Dikutip dari :

GREEN CAMPUS Vs PEMANASAN GLOBAL December 7th, 2009 by gogreenindonesiaku , Oleh: P. Nasoetion ( Jaringan Hijau Mandiri )

http://gogreenindonesiaku.blogdetik.com/2009/12/07/green-campus-vs-pemanasan-global/

itb eco campus http://ecocampus.itb.ac.id/tentang-2/ecocampus/ http://www.radar-bogor.co.id/index.php?rbi=berita.detail&id=63030